Tentang kemegahan perayaan, kedekatan dengan Gereja, dan rahmat Sakramen Perkawinan.
Pemandangannya tentu mengesankan.
Sebuah gereja dihias indah. Musik dipersiapkan dengan serius. Di depan altar berdiri seorang uskup. Di sekelilingnya hadir sejumlah imam.
Lima.
Sepuluh.
Kadang lebih.
Bagi keluarga Katolik, pemandangan semacam itu mudah menimbulkan rasa bangga.
“Wah, diberkati Bapa Uskup.”
“Romonyo banyak sekali.”
Ada pula komentar yang lebih spontan:
“Keluarganya pasti dekat sekali dengan Gereja.”
Tidak ada yang salah dengan sukacita itu. Kehadiran banyak imam bisa menjadi tanda indah bahwa kedua mempelai atau keluarga mereka memang mempunyai perjalanan panjang bersama komunitas Gereja.
Tetapi fenomena tersebut juga membuka pertanyaan kateketis yang menarik:
Apakah perkawinan yang dihadiri seorang uskup dan banyak imam menjadi lebih terberkati daripada perkawinan sederhana yang disaksikan seorang pastor paroki?
Siapa Sebenarnya yang Menerimakan Sakramen?
Di sinilah Sakramen Perkawinan mempunyai keunikan yang sering tidak disadari umat.
Dalam tradisi Gereja Latin, kedua mempelai sendirilah yang saling menerimakan Sakramen Perkawinan.
Laki-laki dan perempuan yang dibaptis menyatakan kesepakatan mereka secara bebas untuk saling menyerahkan dan menerima diri sebagai suami-istri.
Imam atau diakon menerima kesepakatan tersebut atas nama Gereja dan memberikan berkat Gereja.
Artinya, pusat peristiwa sakramental itu bukanlah berapa banyak klerus yang hadir di sekitar altar.
Pusatnya adalah janji kedua orang yang berdiri di hadapan Allah dan Gereja.
“Saya memilih engkau…”
Di situlah perkara seriusnya dimulai.
Apakah Berkat Bisa Dijumlahkan?
Kita terkadang tanpa sadar mempunyai cara berpikir hampir matematis mengenai berkat.
Satu imam: terberkati.
Lima imam: sangat terberkati.
Ditambah uskup: paket lengkap.
Tentu kehidupan sakramental tidak bekerja seperti itu.
Rahmat Allah bukan sistem poin.
Kehadiran uskup tidak mengubah perkawinan menjadi sakramen “kelas premium”. Kehadiran dua puluh imam juga tidak memberikan garansi tambahan bahwa rumah tangga akan bebas konflik.
Pasangan yang perkawinannya dirayakan dengan sederhana di sebuah gereja kecil tidak menerima Sakramen Perkawinan yang lebih rendah nilainya.
Yang membuat perkawinan sakramental bukanlah kemegahan perayaannya, tetapi Kristus yang hadir dalam perjanjian hidup kedua orang yang telah dibaptis itu.
Dan justru setelah bunga mulai layu, dekorasi dibongkar, fotografer menyerahkan album, para imam kembali ke tempat pelayanan masing-masing dan tamu-tamu pulang, Sakramen Perkawinan mulai dijalani dalam bentuknya yang paling konkret.
Sarapan pagi.
Tagihan.
Pekerjaan.
Perbedaan kebiasaan.
Kelelahan.
Anak yang menangis pukul dua dini hari.
Orang tua yang mulai lanjut usia.
Kesalahpahaman.
Pengampunan.
Kesetiaan.
Di sanalah rahmat sakramen harus memperoleh tubuhnya.
Lalu, Salahkah Mengundang Banyak Imam?
Tentu tidak.
Jangan pula kita berbalik menjadi sinis.
Banyak imam yang hadir dapat merupakan tanda persahabatan dan persekutuan yang sangat indah.
Mungkin salah satu imam pernah mendampingi mempelai ketika masih mahasiswa. Imam lain adalah pastor parokinya. Yang lain sahabat keluarga. Seorang lagi mendampingi perjalanan rohaninya. Uskup yang hadir mungkin memang mengenal keluarga itu selama puluhan tahun.
Kalau demikian, kehadiran mereka mempunyai cerita.
Dan cerita itu indah.
Persoalannya muncul ketika simbol gerejawi perlahan berubah menjadi simbol status sosial.
Ketika pertanyaan bukan lagi “siapa yang bermakna dalam perjalanan iman kami?”, tetapi “siapa tokoh paling tinggi yang bisa kami hadirkan?”
Di situlah kita perlu berhenti sebentar.
Sebab altar bukan panggung untuk menunjukkan jaringan sosial.
Pernikahan yang Megah Bukan Musuh
Katekese juga tidak perlu jatuh pada romantisme bahwa perkawinan sederhana pasti lebih suci.
Tidak juga.
Kemiskinan dekorasi bukan sakramen kedelapan.
Kalau sebuah keluarga mempunyai kemampuan menyelenggarakan perayaan yang indah, tidak ada alasan untuk menganggap keindahan itu bertentangan dengan iman.
Gereja mengenal keindahan.
Liturgi sendiri memakai seni, musik, arsitektur, busana dan simbol untuk mengarahkan manusia kepada misteri Allah.
Yang penting adalah urutannya.
Keindahan melayani sakramen, bukan sakramen menjadi aksesori bagi kemegahan.
Tidak Ada Garansi Bebas Badai
Lalu apakah perkawinan yang diberkati uskup dan dikelilingi banyak imam mempunyai kemungkinan lebih besar untuk langgeng?
Tidak ada jaminan semacam itu.
Sakramen bukan jimat.
Rahmat tidak menghapus kebebasan manusia.
Perkawinan tetap membutuhkan komunikasi, kedewasaan, pengorbanan, kemampuan meminta maaf, kesediaan mengampuni dan keputusan untuk terus belajar mencintai orang yang sama—bahkan ketika orang tersebut berubah bersama berjalannya waktu.
Justru iman Katolik memandang kesetiaan perkawinan begitu serius karena cinta bukan hanya perasaan yang kebetulan bertahan.
Cinta juga sebuah keputusan yang terus diperbarui.
Pertanyaan Setelah Semua Orang Pulang
Karena itu mungkin ukuran paling menarik sebuah perayaan perkawinan Katolik bukanlah siapa saja yang berdiri di sekitar altar.
Pertanyaan sesungguhnya datang sesudahnya.
Ketika tidak ada lagi uskup.
Tidak ada rombongan imam.
Tidak ada paduan suara.
Tidak ada kamera.
Tidak ada dekorasi.
Hanya ada dua orang di dalam sebuah rumah dengan segala kegembiraan dan keruwetan kehidupan mereka.
Apakah mereka masih mengingat apa yang pernah mereka katakan di hadapan altar?
Apakah mereka masih bersedia memilih satu sama lain?
Apakah mereka berani meminta pertolongan ketika perkawinan sedang terluka?
Apakah rumah mereka perlahan menjadi tempat di mana kasih Allah dapat dialami?
Sebab pada akhirnya bukan jumlah imam yang menentukan kedalaman sebuah perkawinan.
Dan bukan kemegahan liturgi yang menjamin kesetiaan.
Maka ketika lain kali kita melihat perkawinan dengan seorang uskup dan sederet imam di altar, tidak perlu buru-buru sinis.
Nikmati saja keindahannya.
Doakan pasangan itu.
Tetapi ingat satu hal:
setelah semua Romo pulang, kedua mempelailah yang harus menjalani janji itu.
Hari demi hari.
Selama hidup mereka.
