LABUAN BAJO — Ribuan umat dan pengunjung akan berkumpul di Labuan Bajo, Flores, dalam Festival Golo Koe 2026 yang berlangsung pada 10–15 Agustus. Perayaan ini mempertemukan devosi kepada Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, kekayaan budaya Manggarai, kehidupan masyarakat lokal, serta ajakan untuk merawat lingkungan sebagai rumah bersama.
Festival tahun ini mengangkat tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan.”
Di balik rangkaian pertunjukan budaya dan kegiatan publiknya, Festival Golo Koe memiliki jantung spiritual yang kuat: Prosesi Agung Maria Assumpta Nusantara.
Perjalanan rohani tersebut telah dimulai sejak 10 Juli 2026, ketika Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus membuka prosesi di Paroki Santo Yosef Pekerja Lengkong Cepang.
Patung Maria Diangkat ke Surga kemudian dibawa dalam perjalanan melintasi berbagai paroki di wilayah Keuskupan Labuan Bajo sebelum memasuki rangkaian puncak festival pada Agustus.
Maria “Mengunjungi” Umat
Ketua Panitia Festival Golo Koe, Romo Ivan Selman, menyebut ziarah Maria sebagai jantung spiritual festival.
Sebelum ribuan orang berkumpul dalam perayaan puncak di Labuan Bajo, patung Maria terlebih dahulu mengunjungi komunitas-komunitas umat.
Perjalanan tersebut menjadi simbol Gereja yang berjalan bersama.
Dalam tradisi iman Katolik, perjalanan Maria juga mengingatkan pada kisah kunjungannya kepada Elisabet. Maria tidak menyimpan kabar sukacita bagi dirinya sendiri. Ia bergerak keluar, berjumpa, dan membawa Kristus kepada orang lain.
Karena itu, ziarah ini tidak hanya dimaksudkan sebagai ekspresi devosi.
Umat diajak menjadikan perjalanan bersama Maria sebagai kesempatan untuk memperbarui kehidupan iman serta membangun kepedulian terhadap sesama dan lingkungan tempat mereka hidup.
Iman Bertemu Budaya Manggarai
Festival Golo Koe kini memasuki penyelenggaraan kelima dan berkembang menjadi salah satu perayaan religius dan budaya penting di Flores.
Festival ini bahkan masuk dalam jajaran Top 10 Kharisma Event Nusantara, program nasional yang mempromosikan berbagai kegiatan budaya dan pariwisata unggulan Indonesia.
Selama enam hari, Labuan Bajo akan menjadi ruang perjumpaan antara liturgi, devosi, seni, budaya, ekonomi kreatif dan kehidupan masyarakat.
Rangkaian acara mencakup pameran UMKM dan kuliner, pentas budaya Nusantara, karnaval budaya, teater budaya Manggarai, pertunjukan Caci, prosesi Maria Assumpta Nusantara, Perayaan Ekaristi Akbar, serta pertunjukan seni dan musik.
Pertemuan antara iman dan budaya tersebut menunjukkan bahwa kekatolikan tidak harus menghapus identitas lokal.
Sebaliknya, iman dapat bertumbuh dan dihayati melalui kebudayaan masyarakat tempat Gereja hadir.
Dari Devosi Maria Menuju Kepedulian Ekologis
Ada dimensi lain yang menjadi perhatian khusus Festival Golo Koe tahun ini: keutuhan ciptaan.
Labuan Bajo berada di salah satu kawasan dengan kekayaan alam luar biasa. Kedekatannya dengan Taman Nasional Komodo sekaligus membuat wilayah ini mengalami perkembangan pariwisata yang sangat pesat.
Pertumbuhan tersebut membawa peluang ekonomi, tetapi juga menghadirkan tantangan terhadap kelestarian lingkungan.
Keuskupan Labuan Bajo karena itu mengajak umat melihat devosi Maria bukan sebagai praktik rohani yang terpisah dari persoalan kehidupan sehari-hari.
Iman harus memiliki konsekuensi nyata terhadap cara manusia memperlakukan sesama dan alam.
Rangkaian Festival Golo Koe juga diisi berbagai kegiatan lingkungan yang melibatkan kaum muda, sekolah dan komunitas lokal, termasuk penanaman pohon serta kegiatan membersihkan pantai.
Pesannya sederhana tetapi kuat: doa kepada Sang Pencipta tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab merawat ciptaan-Nya.
Devosi yang Bergerak Keluar
Festival Golo Koe memperlihatkan bentuk devosi yang tidak berhenti pada prosesi dan perayaan.
Maria dihormati bukan hanya melalui patung yang diarak dari satu komunitas ke komunitas lainnya, tetapi melalui semangat yang hendak ditumbuhkan dari perjalanan tersebut: berjumpa, melayani, membangun persaudaraan dan merawat kehidupan.
Dalam pemahaman Katolik, penghormatan kepada Maria pada akhirnya selalu mengarahkan umat kepada Kristus.
Karena itu, ukuran kedalaman sebuah devosi bukan hanya besarnya perayaan atau banyaknya orang yang mengikuti prosesi, tetapi juga perubahan yang lahir setelah perayaan selesai.
Apakah manusia menjadi semakin peduli kepada sesamanya?
Apakah masyarakat semakin menghargai kebudayaannya?
Dan apakah manusia semakin bertanggung jawab terhadap bumi yang menjadi rumah bersama?
Di Labuan Bajo, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan berjalan bersama ribuan langkah umat dalam Festival Golo Koe 2026.
Sebuah ziarah yang berangkat dari devosi kepada Maria, tetapi diharapkan berbuah dalam kehidupan: iman yang merawat manusia, budaya, dan seluruh ciptaan.
Sumber: Vatican News, 11 Juli 2026; Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores; RRI.
