Di balik ucapan proficiat, potong tumpeng, foto tahbisan lama, dan angka-angka perjalanan pelayanan, ulang tahun imamat sebenarnya menyimpan sebuah kesempatan katekese yang sangat kaya.
Ada musim-musim tertentu ketika linimasa umat Katolik dipenuhi ucapan yang hampir seragam: “Proficiat ulang tahun imamat, Romo!”
Foto tahbisan puluhan tahun lalu kembali beredar. Ada foto imam bersama uskup yang menahbiskannya, foto keluarga, perayaan Ekaristi, bunga, kue ulang tahun, sampai deretan ucapan dari lingkungan, komunitas, paroki, tarekat atau keuskupan.
Semua itu baik. Kasih memang membutuhkan ungkapan.
Namun pernahkah kita bertanya: sebenarnya apa yang sedang kita rayakan?
Bukan Ulang Tahun Profesi
Ulang tahun imamat berbeda dari peringatan seseorang mulai bekerja di sebuah perusahaan atau menerima jabatan tertentu.
Imamat bukan sekadar profesi religius.
Melalui Sakramen Tahbisan, seorang imam menerima rahmat dan perutusan khusus untuk mengambil bagian dalam pelayanan Kristus bagi Gereja. Ia ditahbiskan untuk mewartakan Sabda, menggembalakan umat, dan terutama merayakan sakramen-sakramen dalam pelayanan Gereja.
Karena itu tanggal tahbisan menjadi penting bukan terutama karena pada hari tersebut seseorang memperoleh gelar “Romo”, melainkan karena pada hari itu hidup seseorang diserahkan secara khusus bagi pelayanan kepada Allah dan umat-Nya.
Maka pertanyaan yang lebih dalam pada setiap ulang tahun imamat sebenarnya bukan:
“Sudah berapa tahun Romo menjadi imam?”
melainkan:
“Apa yang telah dikerjakan Allah melalui perjalanan imamat ini?”
Pertanyaan kedua mengubah seluruh cara kita memandang perayaan.
Angka yang Menyimpan Cerita
Dua puluh lima tahun imamat terdengar indah.
Tetapi angka itu tidak bercerita tentang semuanya.
Ia tidak memperlihatkan berapa kali seorang imam harus bangun dini hari untuk memberikan minyak suci kepada orang yang sedang menghadapi ajal. Tidak menunjukkan berapa banyak homili yang dipersiapkan ketika pikirannya sendiri sedang penuh persoalan. Tidak mencatat berapa kali ia mendengarkan pengakuan dosa, memberkati jenazah, menemani keluarga berduka, membaptis seorang bayi, mendampingi pasangan yang sedang mengalami krisis, atau duduk sendirian setelah umat pulang dari gereja.
Kita juga tidak perlu meromantisasi semuanya.
Imam tetap manusia.
Ada imam yang hangat dan mudah dicintai umat. Ada yang sulit didekati. Ada yang komunikatif, ada yang kaku. Ada yang luar biasa dalam berkhotbah, ada pula yang mungkin membuat sebagian umat harus berjuang keras supaya tetap terjaga.
Ada keberhasilan. Ada kegagalan. Ada kesetiaan. Ada kelemahan.
Justru di situlah ulang tahun imamat memperoleh kedalamannya.
Yang dirayakan bukanlah perjalanan seorang manusia sempurna, tetapi kesetiaan Allah yang bekerja melalui manusia yang tidak sempurna.
Umat Juga Ada di Dalam Cerita Itu
Menariknya, ulang tahun imamat sering dianggap sepenuhnya sebagai perayaan sang imam.
Padahal tidak.
Di dalam perjalanan imamat selalu ada umat.
Ada keluarga yang dahulu menyerahkan anaknya. Ada umat yang pertama kali memanggilnya “Romo”. Ada putra altar yang pernah dimarahinya tetapi kemudian justru terpanggil menjadi imam. Ada pasangan yang dinikahkannya. Ada anak-anak yang dibaptisnya dan puluhan tahun kemudian datang membawa anak mereka sendiri untuk dibaptis.
Imamat selalu hidup dalam relasi.
Karena itu ulang tahun imamat juga dapat menjadi kesempatan bagi umat untuk bertanya:
Apakah kehadiran imam di tengah komunitas sungguh membantu kita semakin mengenal Kristus?
Dan pertanyaan itu mempunyai pasangan yang tidak kalah penting:
Apakah kita sebagai umat telah membantu imam-imam kita tetap setia pada panggilannya?
Kita sering berharap imam tersedia ketika kita membutuhkan mereka. Tetapi kita mungkin jarang bertanya apakah mereka mempunyai orang yang bersedia mendengarkan ketika merekalah yang sedang lelah.
Kita menginginkan homili yang bagus, pelayanan yang cepat, administrasi paroki yang rapi dan pastor yang ramah.
Semua harapan itu wajar.
Tetapi imam bukan mesin pelayanan sakramental.
Dari “Proficiat” Menuju Katekese
Di sinilah peringatan ulang tahun imamat dapat menjadi momentum katekese.
Anak-anak dapat diajak mengenal apa itu Sakramen Tahbisan.
Remaja dapat diajak memahami panggilan sebagai penyerahan diri, bukan semata-mata pilihan karier.
Orang dewasa dapat kembali memahami hubungan antara imamat pelayanan dan kehidupan sakramental Gereja.
Dan seluruh komunitas dapat belajar bahwa panggilan tidak pernah dijalani sendirian.
Barangkali kita juga perlu memperluas cara merayakannya.
Selain bunga dan kue, mengapa tidak menghadirkan percakapan sederhana dengan sang imam tentang perjalanan panggilannya?
Apa yang membuatnya dahulu berani menjawab panggilan?
Kapan ia pernah meragukannya?
Siapa orang yang paling memengaruhi perjalanan imamatnya?
Apa yang berubah dalam dirinya setelah dua puluh atau tiga puluh tahun menjadi imam?
Dan satu pertanyaan yang mungkin jauh lebih menarik daripada semuanya:
Jika bisa kembali ke hari sebelum tahbisan, apakah Romo masih akan mengatakan “ya”?
Jawabannya mungkin menjadi katekese panggilan yang jauh lebih kuat daripada satu jam pelajaran di kelas.
Akhirnya, Kita Merayakan Kesetiaan
Pada akhirnya ulang tahun imamat bukanlah perayaan tentang seorang imam saja.
Ia adalah perayaan tentang panggilan, jawaban manusia, perjalanan, komunitas, dan terutama kesetiaan Allah.
Karena itu silakan mengirim bunga.
Silakan membuat video ucapan.
Silakan mencari foto tahbisan Romo dua puluh lima tahun lalu dan mengunggahnya kembali—termasuk foto dengan model rambut yang mungkin sekarang ingin beliau lupakan.
Tetapi jangan berhenti di sana.
Ketika kita berkata, “Proficiat ulang tahun imamat, Romo,” sesungguhnya kita sedang mengatakan sesuatu yang jauh lebih dalam:
Terima kasih karena pernah mengatakan “ya”, dan terus berusaha menghidupi “ya” itu sampai hari ini.
Dan bagi umat yang merayakannya, tersimpan sebuah pertanyaan kecil:
kepada panggilan apa Tuhan sedang meminta kita sendiri untuk tetap setia?
