Opini

Ketika Katekese Menjadi Kudapan

Di tengah banjir video pendek tentang iman, batas antara katekese dan sekadar konten religius semakin kabur. Persoalannya bukan pada durasi, melainkan pada kedalaman dan akar yang menopangnya.

8 Aug 2026 · 4 min read · masterccapps

Tidak semua konten tentang iman adalah katekese. Kadang ia hanya kudapan rohani: enak dikonsumsi, mudah dibagikan, tetapi tidak cukup untuk memberi makan iman.

Ada perubahan menarik dalam cara umat Katolik belajar tentang imannya. Dulu orang mengenal katekese melalui pertemuan di paroki, buku, kelas persiapan sakramen, pendalaman Kitab Suci, atau percakapan panjang bersama seorang katekis. Hari ini, sebagian pengalaman itu berpindah ke layar telepon.

Dalam waktu kurang dari satu menit kita dapat memperoleh penjelasan tentang Ekaristi, dosa, perkawinan, Maria, api penyucian, bahkan Tritunggal. Judulnya menggoda: “Tahukah kamu?”, “Ternyata Gereja Katolik mengajarkan…”, “Tiga fakta yang tidak diketahui umat Katolik”, atau pertanyaan provokatif yang jawabannya dijanjikan sebelum jempol kita sempat berpindah ke video berikutnya.

Tidak ada yang salah dengan video pendek. Tidak ada pula yang salah dengan menyederhanakan sesuatu yang rumit agar menjadi pintu masuk bagi orang yang baru ingin mengenal iman.

Persoalannya muncul ketika pintu masuk dianggap sebagai seluruh rumah.

Katekese bukan sekadar informasi tentang agama

Katekese tidak identik dengan memproduksi sebanyak mungkin fakta mengenai Gereja Katolik. Mengetahui warna liturgi, nama benda-benda misa, sejarah devosi, atau arti suatu simbol tentu berguna. Tetapi seseorang dapat mengetahui ratusan fakta Katolik tanpa pernah sungguh-sungguh dibentuk oleh iman Katolik.

Katekese mempunyai cakrawala yang jauh lebih besar.

Gereja memandang katekese sebagai bagian dari proses evangelisasi yang membawa seseorang bukan hanya kepada pengetahuan mengenai Kristus, tetapi kepada persekutuan dan keintiman dengan Kristus. Karena itu katekese menyentuh pengetahuan iman, perayaan misteri iman, kehidupan moral, doa, kehidupan komunitas, dan perutusan.

Dengan kata lain, pertanyaan katekese bukan hanya, “Apakah umat sekarang tahu sesuatu yang sebelumnya tidak mereka ketahui?”

Pertanyaannya juga: “Apakah apa yang mereka terima membantu mereka semakin mengenal Kristus, memahami iman Gereja, merayakannya, menghidupinya, dan memberi kesaksian tentangnya?”

Di situlah perbedaan antara katekese dan kudapan informasi keagamaan mulai terlihat.

Algoritma menyukai kepastian. Iman sering membutuhkan kedalaman.

Media sosial bekerja dengan logika perhatian. Konten harus segera menarik mata, membangkitkan rasa penasaran, membuat orang berhenti melakukan scroll, lalu—kalau beruntung—mendorong mereka membagikannya.

Maka muncul godaan yang sangat manusiawi: iman dikemas mengikuti kebutuhan algoritma.

Hal-hal yang kompleks dibuat hitam-putih. Pertanyaan yang sebenarnya memerlukan konteks dijawab dengan satu kalimat. Perbedaan antara ajaran definitif Gereja, disiplin gerejawi, tradisi lokal, pendapat teologis, dan devosi populer kadang menghilang begitu saja.

Yang penting terdengar meyakinkan.

Lebih problematis lagi ketika ukuran keberhasilan katekese tanpa sadar berubah menjadi angka: berapa views, berapa likes, berapa shares.

Padahal konten yang viral belum tentu membentuk iman. Dan konten yang membentuk iman belum tentu viral.

Satu penjelasan yang tenang tentang mengapa Gereja merayakan Ekaristi mungkin kalah menarik dibanding judul provokatif tentang “rahasia Misa yang tidak pernah diberitahukan kepada umat”. Tetapi katekese tidak dipanggil pertama-tama untuk memenangkan kompetisi perhatian.

Ia dipanggil untuk melayani kebenaran.

Tiga akar yang tidak boleh dicabut

Katekese Katolik tidak lahir dari kreativitas seorang pembuat konten semata. Kreativitas sangat diperlukan, tetapi ia bekerja di dalam sebuah warisan iman yang telah diterima Gereja.

Karena itu sebuah konten yang mengklaim diri sebagai katekese setidaknya harus berani diuji terhadap tiga akar: Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium Gereja.

Bukan berarti setiap video harus berubah menjadi kuliah teologi dengan catatan kaki memenuhi layar. Justru tantangannya adalah sebaliknya: bagaimana sesuatu yang memiliki akar mendalam dapat disampaikan dengan bahasa yang sederhana.

Sederhana berbeda dengan dangkal.

Yesus sendiri menggunakan gambaran yang sangat sederhana—benih, roti, domba, pohon ara, seorang ayah dan dua anaknya. Tetapi kesederhanaan itu membuka kedalaman yang bahkan setelah dua ribu tahun masih terus direnungkan Gereja.

Katekese digital seharusnya belajar dari pola tersebut: bahasa boleh sederhana, medium boleh singkat, tetapi akarnya tidak boleh dangkal.

Snack boleh. Jangan mengaku sebagai “makan malam”main course”.

Barangkali kita memang membutuhkan faith snack.

Sebuah video tiga puluh detik dapat membangkitkan pertanyaan. Sebuah infografis dapat membuat seseorang penasaran. Sebuah reel dapat menjadi perjumpaan pertama seseorang dengan sebuah istilah iman yang selama ini asing baginya.

Itu berharga.

Masalahnya bukan pada kudapannya. Masalah muncul ketika kita berhenti menyediakan makanan yang sesungguhnya.

Media sosial bukan tujuan akhir katekese. Ia menjadi pintu masuk menuju perjalanan belajar iman.

Konten singkat seharusnya berkata secara implisit: “Ini baru permulaan. Mari masuk lebih dalam.”

Dari sebuah video tentang Ekaristi, orang dapat diarahkan kepada penjelasan yang lebih lengkap. Dari sebuah pertanyaan tentang Kitab Suci, orang dapat diajak membaca teksnya dalam konteks. Dari sebuah konten mengenai ajaran Gereja, orang dapat menemukan Katekismus, dokumen Konsili, ensiklik, atau sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan begitu media sosial bukan tujuan akhir katekese. Ia menjadi pintu masuk menuju perjalanan belajar iman.

Dari konsumsi menuju formasi

Mungkin pertanyaan yang perlu diajukan kepada setiap karya katekese digital bukan lagi sekadar: “Apakah konten ini menarik?”

Kita perlu menambahkan beberapa pertanyaan lain.

Apakah ini benar? Dari mana sumbernya? Apakah konteksnya cukup? Apakah ia sesuai dengan iman yang diterima dan diajarkan Gereja? Apakah ia membantu orang bertumbuh, atau hanya memancing keterkejutan sesaat? Dan setelah menontonnya, ke mana orang dapat pergi untuk belajar lebih jauh?

Sebab iman Kristiani bukan kumpulan trivia religius.

Iman adalah perjalanan panjang untuk mengenal Allah yang mewahyukan diri-Nya, memasuki kehidupan Gereja, merayakan misteri keselamatan, membentuk hati nurani, belajar berdoa, hidup bersama sesama, dan akhirnya menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

Untuk perjalanan sebesar itu, kita tentu boleh membawa kudapan.

Tetapi kita tidak dapat hidup dari kudapan saja.

Penulis: Samuel Samodro

Rujkan: Catechesi Tradendae 5; Dei Verbum 10; Katekismus Gereja Katolik 74–100; Directory for Catechesis (2020), khususnya pembahasan mengenai katekese dalam budaya digital.